Menjaga Makhluk Tuhan Biar Enggak Mati (Sebuah Perjalanan Donor Darah yang Plot Twist)
Perkenalanku
sama yang namanya "donor darah" itu fiks dimulai zaman-zaman mutiara
hitam alias pas masih MTs di pesantren pertama dulu (halo, NQ!). Seingatku,
setiap dua atau tiga bulan sekali, gerombolan Mas-Mas dan Mbak-Mbak PMI bakal
dateng berkunjung. Waktu itu? Boro-boro tertarik. Selain emang umur belum masuk
kriteria, liatain jarumnya plus kantong-kantong isi darahh ajaa udah pengen
muntahhhh.
Sampai
akhirnya, tibalah masa-masa SMA. Aku ingat banget, siang itu lagi pelajaran
kitab Bulughul Maram. Neng Zulfa, pengampu materi hadis kami, tiba-tiba
menyinggung soal donor darah di sela-sela penjelasannya. Dawuh beliau kurang
lebih begini: "Donor darah itu salah satu pekerjaan yang mulia. Bisa
jadi darah yang kalian donorkan itu dipakai sama para ulama yang sedang
membutuhkan. Beliau-beliau pakai untuk syiar dan dakwah, dan darah kalian
mengalir di dalam tubuhnya. Bayangkan betapa banyak pahala yang terus mengalir
ke kalian."
Mendengar
itu, sisi humanisku terenyuh, tapi isi kepalaku malah refleks nyeletuk julid: "Lahh,
gimana kalau darahnya nanti malah dipakai sama orang yang niatnya buat
maksiat?" Isi pikiran random itu cuma kusimpan sendiri. Tapi
untungnya, selang beberapa hari, gerutuanku itu dijawab oleh diriku sendiri: "Ya
enggak apa-apa juga kali! Niatin aja buat menjaga makhluk Tuhan biar enggak
mati!" Oke, kira-kira seperti itulah jawaban erina untuk diana waktu
itu. Deal.
Tapi
di balik niat mulia itu, ada satu kesalahpahaman paling kocak sepanjang sejarah
hidupku. Dulu, aku mengira orang yang donor darah itu bakal dibayar pakai duit
cash. Sampai pada suatu hari, pas lagi telponan sama ibuk e, dan nanya kenapa pak
Rusdi (ayahanda tercintahhhh) kok enggak ikutan nimbrung di telepon, Ibuk
dengan santainya menjawab, "Bapakmu lagi donor darah."
Seketika
duniaku runtuh. Aku nangis sesenggukan, sedih sekaliiii sampai ke ulu hati. Di
otakku langsung tersemat pikiran dramatis: Ya Allah, Bapakku segini bokeknya kah
sampai nekat ngejual darah sendiri?! 😭🤣
Begitu
tahu fakta kalau donor darah itu murni sukarela alias gratis tis, di situlah
titik balikku. Keinginan buat donor langsung meroket eheeeeww🤸🏼️😚. Jadi, setiap
kali PMI datang ke pesantren, aku mesti ikutan daftar. Tapi takdir berkata
lain. Sampai lulus pun, statusku cuma jadi "pendaftar abadi". Kalau
enggak karena HB rendah, tensi drop, ya minimal lagi flu atauu pas lagi haid.
Intinya: Ditolak terus!
Harapan
baru muncul lagi pas aku pindah ke pesantren kedua (SKJ). Dalam hati berdoa,
semoga di sini ada agenda PMI lagi. Dan yes! Setelah satu-dua tahun menetap,
info yang ditunggu-tunggu itu akhirnya rilis. Aku langsung daftar dengan
sisa-sisa optimisme yang ada😋. Hasilnya?
Pecah telur! Untuk pertama kalinya dalam sejarah, aku dinyatakan lolos dan
berhasil donor darah. Rasanya? Senangggggg sekaliii, berasa kayak habis menang
lotre. Sayangnya, setelah momen bersejarah itu, info donor darah enggak pernah kudengar
lagi.
Sampaii
akhirnya, waktu membawa aku kembali ke rumah. Hari ini, untuk pertama kalinya
aku berniat donor darah di tempat asal sendiri. kali ini kompak bareng Bapak
Rusdi. Tapi dasar hidup penuh komedi, kami berdua kompak DITOLAK secara
terhormat! Alasannya? Yang satu tensinya kerendahan, yang satu ketinggian
wkwkwk.
Tapi
ya... namanya juga hidup, kalau enggak ada komedinya kurang seru. Setelah dicek
sama petugasnya, kami berdua kompak ditolak secara terhormat. Alasannya? Yang
satu tensinya kerendahan, dan yang satunya lagi kematengan alias ketinggian!
Wkwkwk. Akhirnya kami cuma bisa pulang sambil ketawa pasrah.
Intinya,
perjalanan donor darahku ini emang penuh komedi. Dari yang awalnya takut jarum,
sok kritis mikirin dosa orang, nangis bombay ngira bapak bokek parah sampe rela
jualan darahnya, sampai akhirnya kompak ditolak bareng bapak sendiri. Plot twist
donor darah yang penuh komedi, dan yang jelas target utama buat "menjaga dan
menolong makhluk Tuhan biar enggak mati" fiks bakal tetap jadi misi utama
yang harus dituntaskan di kesempatan berikutnya! Yukk donor darah barengg,
donor darah itu pekerjaan yang muliaa lohhh😚🤸🏼️
Sekian cerita
darikuuu, terima kasih sudah menyimak sampai akhirrr❤️🔥

Komentar
Posting Komentar