Pernah nggak sih, kalian lagi nongkrong,
ngobrol seru sama temen-temen, ketawa kenceng, tapi di dalam hati rasanya ada
yang mengganjal? Kayakkk apa yaaa, kayaak ada sesuatu yang pengen kalian
omongin, tapi kalian urungkan karena merasa... "Ah, mereka nggak bakal
paham juga. (bahasaku)"
"Jumlah bahasa di dunia ini sebanyak
manusia di dalamnya, karena setiap manusia memiliki bahasanya
masing-masing." ✨
Selama ini aku mikir kalau sudah sama-sama
ngomong bahasa Indonesia, berarti kita saling paham. Padahal nggak sesimpel
ituuu lohhhhhhhhhh. Kalau setiap orang punya bahasa uniknya sendiri, berarti
kita semua sebenarnya lagi pakai 'kacamata' dengan warna yang
beda-beda di kepala kita. Akhirnya? Kita semua sebenarnya terisolasi dalam
pikiran masing-masing, hmmm, iyaa gaaaaaaa?
Bayangin deh, kita; aku, kamu, kalian semua
lagi melihat satu objek yang sama, tapi kamu pakai kacamata warna biru,
sedangkan aku pakai warna merah. Kamu bakal bilang dunia ini sejuk, tapi aku
bakal bilang dunia ini panas membara. Akhirnya kita debattttttttttt ga
kelar-kelar, padahal dunianya ya gitu-gitu aja loh, cuma kacamata kita yang
nggak sama. π✨
Nah, yang bikin makin kompleks, warna lensa
kacamata kita itu mungkin niiihh, terbentuk dari pengalaman hidup, luka,
kebahagiaan, sampai trauma masa lalu. Misal nih, buat seseorang yang
mungkinnnnnn, pernah dijanjikan sesuatu, namun janji itu ikutan terbang sama
orang yang membuat janji (ilang), kata “Janji” mungkin nggak lagi
terlihat seperti harapan, tapi justru kayak ancaman atau kebohongan. Kita
ngerasa terisolasi karena ada rasa yang nggak bisa kita transfer 100% ke otak
orang lain.
Itu sebabnya, satu kata yang sama bisa punya
arti yang beda 180 derajat di ‘kamus’ tiap orang. Tergantung apa yang pernah
kita lewatin sebelumnya. Misalnya nih yaaaaaaaaa:
· "Nanti Kita Bicara": Ada
yang nganggap ini cuma penundaan biar emosi stabil dulu. Tapi buat yang lain?
Ini rasanya kayak awal dari akhir alias vonis mati.
· "Maaf": Ada
yang melihatnya sebagai jembatan untuk memperbaiki diri, tapi ada juga yang
ngerasa itu cuma kata sampah yang hanya diucapkan tanpa perubahan.
· "Aku Butuh Waktu Sendiri": Seseorang mungkin sedang menawarkan solusi agar hubungan tidak meledak. Namun, pasangannya mungkin mendengarnya sebagai ancaman perpisahan.
Seringkali kita; aku, kamu, kalian semua juga
terbentur sama batas kata-kata. Nyatanya, ini menurutku sihhhhh, pikiran
kita itu jauh lebih luas dari kosakata yang tersedia. Ada banyak perasaan yang
super duperrrr rumit tapi nggak punya nama. Pas kita ngerasa sedih yang
bercampur sama syukur dan takut secara bersamaan, kita akhirnya cuma bisa
bilang "Aku nggak apa-apa" Padahal mungkin sebenernya niiihh,
sebenernyaaa, sebagian besar isi pikiran kita tetep ‘terkunci’ di dalam karena
nggak ada kata yang cukup kuat buat membawanya keluar. π️π
Jadi, mungkin ini alasan kenapa kita-kita semua
sering ‘salah sambung’ (khususnya aku, ha- haaa) karena kita
mungkin selalu pakai standar atau ‘kamus’ pribadi buat menilai orang lain. Aigooπ
Misal dalam pertemanan (ku). Kalau aku lagi ada
problem, lagi di fase ‘eror’ aku kayanyaa malah mendadak galak atau passive-aggressive. Di kamus
kamu, sikapku ini mungkin artinya ‘ngajak ribut’ ✌πΌπ Tapi di
bahasaku, galak itu adalah benteng perlindungan karena aku lagi rapuh banget
eww, (kosa kata ini terlalu EWW. Lemah! tapi aku juga bingung mau pakai kosa
kata apa hahahaa), capek, males dan nggak mau kelihatan lemah.
Kadang tiba-tiba diem, di kamus kamu sikapku
ini mungkin artinya ‘erina menyebalkan’ tapi di bahasaku, diem itu adalah
caraku untuk menenangkan diri sendiri, supaya kesalku tidak meluap kemana-mana.
Ha-haa.
Persis kayak perumpamaan ini; ada orang yang Diam karena ingin Refleksi, cara dia menenangkan
diri agar terhindar dari mengucapkan kata-kata kasar saat marah. Tapi di sisi
lain, ada yang nangkap diam itu sebagai Hukuman (silent treatment), siapa yanggg kaya gini jugaa? Ha haaa.
Nah, di sini letak repotnya. Sebenernya aku
lagi teriak minta tolong pakai bahasa 'marah-marah', tapi kalian mungkin
nangkapnya aku lagi 'ngusir'. Akhirnya kita sama-sama terluka di satu
meja yang sama, cuma karena kita nggak punya kamus terjemahan yang pas.
Mungkin kita-kita semua sebenarnya punya sosok
Cha Moo Hee dalam diri kita, jadi sebenrnyaaa terutama akuuu, butuh sosok do-ra-mi kalii yaa dalam diri, untuk
menjadi translator dari semua kosa kata yang ngga bisa aku pahami, butuh sosok
ini juga buat menyampaikan apa yang aku rasa tapi aku sulit mengutarakan, butuh
sosok ini untuk menjadi jembatan komunikasi ku dengan orang lain. Butuh sosok
ini supaya lebih jujur ngomong ke orang apa yang aku rasa, tanpa merasa ‘ngga
enak ini, itu’. Tapi serem jugaaa sihh, kalau beneran ada sosok do-ra-mi
dalam diriku, ha haa ha.
Ternyata, jadi dewasa itu bukan cuma soal
pinter ngomong, tapi juga pinter 'mendengar' apa yang nggak terucap. Belajar
buat nggak langsung nge-judge kacamata orang lain itu burem, cuma karena
warnanya nggak sama kayak kacamata kita.
Mungkin sekarang aku mulai sedikit paham, kalau tujuan kita-kita semua ngobrol itu bukan buat menyamakan warna kacamata, tapi buat saling pinjem bentar supaya aku tahu kenapa kamu bilang dunia itu sejuk, dan kamu tahu kenapa aku bilang dunia ini lagi panas membara. π✨
Jadi, buat kalian yang mungkin pernah kena
semprot pas aku lagi 'eror'... mianhae. π Aku
bukannya bermaksud jahatttt, aku cuma lagi pakai bahasa yang mungkin belum ada
terjemahannya di kamus kamu, di kamus kalian.
Karena ternyata, koneksi yang paling indah itu
bukan saat kita punya bahasa yang sama, tapi saat kita mau tetep tinggal meski
bahasa kita beda. Terima kasih ya sudah mau mampir dan coba baca 'kamus'
pribadiku hari ini. Sampai ketemu di obrolan yang lebih jujur dan tawa yang
lebih lega. Warm hugs! ☕️π§Έ
Waahh, udahh malem bangett, Sleep tight and I'll see you in my
dreams. Dengerin ini, biar makin oke. Menemukan presisi ketenangan dalam dekapan Midnight Rain di penghujung hari.

memilih diam, menahan kalimat, karena takut makna hatinya justru rusak saat diucapkan.
BalasHapus"Andai kita berbicara dalam bahasa yang sama juga, sehingga semua yang kukatakan bisa kamu pahami dan isi hatiku benar-benar tersampaikan, apa aku bisa mendapatkan hatimu lebih dulu? Tapi faktanya, meskipun aku memilih untuk tetap tinggal, aku tetap saja kalah." Hiro Kurosawa.
BalasHapusCan This Love Be Translated?
eipisode 11.
Sekaline njedhul kok dadi Gus Galau? Kapalku kerem tenanan rekπ✌πΌ
Hapusjangan gitu= gitu
BalasHapus