Aku kangen kamu,
Di penghujung tahun hijriah kemarin, aku masih
sempat mendapat pesan terakhirmu meski tak sempat ku balas. Sekarang, aku masih
merasa ini semua hanya mimpi buruk dan aku bakalan terbangun untuk membuktikan
bahwa ini emang benar-benar hanya mimpi, pilunya, semua harapku itu emang tak
akan pernah menjadi nyata, karena kepergianmu yang kuharap hanya sebuah mimpi
buruk itu adalah kenyataan yang mau tidak mau harus ku ikhlaskan.
Kita memang tak
pernah bersama, tapi percayalah, bagiku kisah hampir kemarin adalah kisah yang
lebih indah ketimbang hubungan yang sudah berjalan tahunan lamanya, kita tidak pernah menjadi sepasang kekasih, namun kita mempunyai
sesuatu yang memang kita cari dari duluu. Bahkan kita sudah tau akan ada rasa
apa dianatara kita berdua disaat pertemuan pertama kita dulu, dan lagi-lagii
aku yang terlalu parno kala itu. L maaaf!
Fikirku, sejak
second lettermu kala ituuu, mungkin kita benar-benar dua pasang yang sempurna,
perckapan yang tidak pernah kehabisan topik, ah, itu mungkin karena memang kamu yang selalu punya inisiatif agar
percakapan kita tidak pernah putus ataupun garing, kukatakan sekali lagi, AKU KANGEN ITU!
Juga, setiap tatap yang tak pernah membosankan baik in real life ataupun di
balik layar (candu), setiap waktu yang aku jalani bersamamu, selalu menjadi
waktu yang pasntas dikenang dengan bahagia.
Kau mengatakan,
bahwa tidak ada yang sia-sia, walaupun dari pertemuan yang terlambat di anatara
kita berdua, sebab katamu dulu,bertemu denganku di masa apa saja, itu sudah
cukup membahagiakanmu, ( meskipun kau sempat berkata, “aku nyesel, kenapa kita
gakk dari dulu aja sih kenalnya?). ah ternayata kamu emang sekeren itu yaa,
sampai detik ini saja aku masih mengingat, bahkan dengan ketawamu di sela-sela
obrolan kala itu masih kuingat.
Kamu tau? Sudah
tentu sekarang aku merindukanmu, kepergianmu kemarin membuatku harus
kehilanganmu, yang disitu juga meninggalkan luka untuk hatiku yang sudah
memantapkan niat untuk memilihmu, jauh hari sebelum kau lebih memilih kembali
ke langit.
Aku berusaha
mencari kamu di tiap jiwa yang mengajakku untuk bertukar hati, Aku mencari orang-orang
yang lebih baik darimu disetiap mereka yang datang meminta hatiku, tapi
ternyata ini lebih sulit dari yang kubayangkan, bukan tidak mungkin, tapi
memang sulit, sulit bagiku menemukan yang lebih baik sepertimu,bahkan yang
mirip sepertimu saja belum kutemukan.
Pada suatu waktu, aku pernah bertanya pada tuhan, mengapa
ia pertemukan kemudian memisahkan kita di waktu yang bagiku sangat singkat ini?
Disaat hatiku sudah mulai condong ke kamu,
Disaat semua hal belum sempat di lakukan,
Disaat semua rencana yang lagi-lagi tak akan pernah menjadi nyata,
Disaat semua janji yang belum sempat kau tepati,
Disaat mimpi bersama yang terpaksa harus dibenamkan lagi,
Sama seperti yang sempat kamu sesalkan kala itu, “kenapa
kita baru bertemu?” aku menganggap katamu kala itu hanya angin lewat saja, ah..
nyatanya setelah beberapa hari bersamamu, aku juga merasaka hal itu, kenapa
kamu gak datang dari dulu-dulunya? Tapi yang lebih aku sesalka adalah, aku
belum sempat mengungkapkan rasa sesalku juga ke kamu.
Aku menyesali, atas semua jawabanku dari semua pertanyaanmu yang belum sempat ku jawab. Di kala sadar, semuanya tidak mungkin terulang lagi,
Tapi sekarang
aku mengerti, kenapa tuhan mempertemukan kita dulu, ka dikirim tuhan untuk
membuatku percaya, bahwa yang sempurna belum tentu menjadi takdir yang menemani
sampai akhir cerita.
Aku
berterimakasih atas segala pelajaran, dan juga segala bahagia yang pernah kamu
berikan, dan juga terimakasih atas segala pengalaman sesaat yang terasa lebih
lama dari selamanya, kau akan tetap mempunyai ruang khusus di hatiku, kau akan
tetap menjadi rasa syukur yang ku
panjatkan setiap hari pada tuhanku,
Dan sekarang,
tibalah saatnya, saat dimana aku harus melepaskanmu, mengikhlaskanmu, menerima
kenyataan, bahwa kau (memang) bukan milikku, dan tak akan pernah menjadi
milikku, sudah saatnya aku berhenti berandai-andai bahwa aku dan kamu masih
berada dalam satu alam yang sama.
Terimakasih
twinn, senang pernah menjadi seseorang
yang penting di hatimu, karena biar bagaimanapun, dulu kau pernah
menjadi alasan atas semua bahagiaku,
Untuk kesekilan kalinya...
Selamat jalan,
Semoga tenang,
Al- fatihah
i'm done jib, tengkyuu. but I will still do that sincere prayerπ₯π»
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus